STUDI KOMPARASI ANTARA PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN DAN K.H HASYIM ASY’ARI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

Oleh : Afdhol Abdul Hanaf

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan icon fundamental dalam rangka membenahi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Dengan pendidikan, khususnya pendidikan islam, manusia akan memiliki akhlak , moral, ataupun etika  yang baik  sehingga tercipta kehidupan yang teratur. Dengan pendidikan islam yang sesungguhnyalah manusia akan mampu merekonstruksi pola pikir yang selama ini masih di bawah ketertindasan. Pendidikan Islam yang selama ini dalam bayangan manusia menjadi pilihan yang tepat dalam rangka menumbuhkembangkan fitrah dan potensi yang diberikan oleh Allah SWT yang kemudian dieksplorasikan dalam kehidupan nyata. Hal ini menjadi sebuah keharusan yang harus difikirkan oleh elemen pelaksana pendidikan.

Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan, dan keterpecahbelahan.

Pendidikan islam merupakan hal yang sangat penting bagi seluruh umat islam. Karena pentingnya akan pendidikan tersebut maka agama islam pun mewajibkan untuk menuntut ilmu. Rasulullah Saw bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَة عَلَى كُلِّ مُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ

Artinya :

Menuntut ilmu wajib bagi seluruh muslim laki-laki dan perempuan”.( H.R. Ibnu Majah)

Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi seluruh umat islam. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan sangatlah penting bagi manusia sampai-sampai islam pun mengajarkan dan mewajibkan umat manusia untuk menuntut ilmu.

Pendidikan Islam pada saat ini belum mampu memberikan nuansa baru kepada peserta didik. Degradasi moral pun kian marak. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri masyarakat kian luntur, bahkan pelajar ataupun mahasiswa yang statusnya sedang menuntut ilmu juga tidak memperhatikan nilai-nilai moral tersebut. Tawuran dan pelanggaran-pelanggaran lain sering terjadi. Sebagai contoh kasus penyerangan warga yang dilakukan oleh siswa di Jakarta yang terjadi pada hari kamis, 24 April 2012.[1] Peristiwa keributan ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Para pelajar yang masih mengenakan pakaian seragam sekolah tiba-tiba menimpuki warga yang ada di Jalan Galur Raya, Jakarta Pusat. Aksi tawuran ini melibatkan belasan pelajar. Beberapa orang dari mereka ada yang membawa kayu dan senjata tajam. Sebuah pos yang biasa digunakan tempat mangkal tukang ojek di kawasan itu juga sempat di rusak oleh pelajar tersebut.[2]

Dari kasus di atas membuktikan bahwa pendidikan islam saat ini belum mampu menanamkan nilai-nilai islam di kalangan masyarakat. Kasus semacam ini tidak hanya terjadi di Jakarta, akan tetapi di daerah-daerah lain juga sangat marak terjadi, seperti aksi anarkis para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga pada saat demo kenaikan harga BBM, tawuran pelajar di Bekasi yang memakan korban, dan lain-lain. Para pelajar yang statusnya masih dididik melakukan hal yang melanggar dan merusak moral.  Kondisi pendidikan yang demikian, khususnya pendidikan islam, maka  harus segera diatasi dengan cara menumbuhkembangkan pendidikan islam itu sendiri. Dalam mengatasi permasalahan itu tidak harus menemukan ide baru, akan tetapi bisa juga menghadirkan kembali tokoh-tokoh atau intelektual muslim yang bergelut dalam pendidikan islam dan memiliki kejayaan pada masa itu. Di indonesia, banyak tokoh-tokoh islam yang andil dalam memberikan kontribusinya terhadap pendidikan islam. Beberapa tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam pendidikan islam di indonesia di antaranya adalah K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari. Kedua tokoh inilah yang pada perkembangan selanjutnya mampu merekonstruksi konsep pendidikan islam yang disesuaikan dengan realitas dan kebutuhan zaman.

Muhammad Darwisi, atau K.H Ahmad Dahlan mendirikan sebuah organisasi bernama Muhammadiyah pada tahun 1912. Tujuan didirikannya perkumpulan ini untuk menghidupkan kembali ajaran islam yang murni dan menuruti kemauan ajaran agama islam. Islam digunakan sebagai jalan hidup umat manusia, baik dalam kehidupan individu maupun sosial.

Pada tahun 1926 Nahdlatul Ulama atau yang populer disebut NU  pun berdiri atas inisiatif ulama-ulama pada waktu itu. Salah satu pendiri organisasi ini adalah K.H Hasyim Asy’ari. Organisasi ini berusaha mengembalikan dan mengikuti salah satu madzhab yang telah ada (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali). Asy’ari mengemukakan dua tujuan diberikannya pendidikan islam bagi manusia, yaitu[3] :

  1. Menjadi insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT
  2. Menjadi insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Titik tolak pembahasan ini ialah mencari sudut pandang historis tentang konsep pendidikan islam yang dikemukakan oleh K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari. Dalam pembaharuan pendidikan dan agama, mungkin kedua tokoh ini menempati kedudukan yang berbeda atau justru sebaliknya. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya sesuatu yang mempengaruhi kedua tokoh tersebut dalam upaya mencapai mobilitas keagamaan. Di samping itu mungkin juga dipengaruhi oleh faktor-faktor intern (keluarga, pendidikan, dll) dan ekstern (kondisi sosial, ekonomi, politik, dll). Di samping itu penelitian ini juga mencari persamaan dan perbedaan pola pemikiran kedua tokoh tersebut beserta implikasinya dalam dunia pendidikan islam.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditarik beberapa pokok masalah yang perlu ditelaah dan diteliti, yaitu :

  1. Bagaimana pemikiran pendidikan Islam menurut K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari ?
  2. Apakah persamaan dan perbedaan antara pemikiran pendidikan Islam K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari ?
  3. Bagaimana implikasi pemikiran pendidikan Islam K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia?
  4. Tujuan Penelitian
    1. Untuk mengetahui pemikiran pendidikan Islam yang dicetuskan oleh K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari
    2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara pemikiran pendidikan Islam K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari
    3. Untuk mengetahui implikasi pemikiran pendidikan Islam K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia.
  5. Manfaat Penelitian
    1. Secara Teoritis

Untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan menambah wawasan dalam pemikiran pendidikan islam para tokoh terdahulu.

  1. Secara Praktis
    1. Sebagai masukan bagi perencanaan kebijakan dan pelaksanaan pendidikan, khususnya pendidikan Islam di Indonesia.
    2. Sebagai informasi bagi disiplin ilmu pendidikan dan menjadi inovasi baru bagi kependidikan.

BAB II

  1. Landasan Teori
    1. Pengertian Komparasi

Komparasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbandingan.[4] Yang dimaksud perbandingan dalam penelitian ini adalah membandingkan pemikiran-pemikiran dari K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari tentang pendidikan islam beserta pengaruh-pengaruhnya di kalangan pendidikan. Dari perbandingan tersebut maka akan ditemukan berbagai persamaan maupun perbedaan pemikiran kedua tokoh besar Indonesia ini.

Menurut Winarno Surakhmad dalam bukunya Pengantar Pengetahuan Ilmiah (1986 : 84), komparasi adalah penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisis tentang hubungan sebab akibat, yakni memilih faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan faktor lain.[5] Sedangkan Mohammad Nazir (2005 : 8) mengemukakan bahwa studi komparatif adalah sejenis penelitian yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat, dengan menganalisa faktor penyebab terjadinya maupun munculnya suatu fenomena tertentu.[6]

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud studi komparasi adalah suatu kegiatan untuk mempelajari atau menyelidiki suatu masalah dengan membandingkan dua variabel atau lebih dari suatu obyek penelitian.

  1. Pengertian Pendidikan

Istilah pendidikan dalam bahasa inggris disebut education, berasal dari bahasa latin educare yang dapat diartikan sebagai pembimbingan keberlanjutan. Hal tersebut mencerminkan keberadaan pendidikan yang berlangsung dari generasi ke generasi sepanjang eksistensi kehidupan manusia. Pendidikan dimulai sejak bayi lahir, bahkan sejak masih dalam kandungan. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa keberadaan pendidikan melekat erat di dalam diri manusia sepanjang zaman.[7]

Definisi di atas menggambarkan bahwa pada hakikatnya pendidikan dilaksanakan sebelum lahir. Sebelum dan sesudah lahir manusia dituntut untuk melaksanakan proses pendidikan. Banyak para ahli yang membahas definisi pendidikan. Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan secara luas, yaitu: “pengembangan pribadi dalam semua aspeknya”.[8] Definisi inilah yang kemudian lebih dikenal dengan istilah tarbiyah, dimana peserta didik bukan sekedar orang yang mampu berfikir, tetapi juga orang yang belum mencapai kedewasaan. Oleh karena itu tidak dapat diidentikkan dengan pengajaran.

Dalam pemikiran K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari, beliau percaya bahwa manusia mempunyai potensi bawaan semenjak lahir. Beliau juga berpendapat bahwa lingkungan sekitar manusia tinggal juga mempunyai peranan yang sangat penting. K.H Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwasanya pendidikan merupakan sarana untuk mencapai kemanusiaannya sehingga dapat menyadari siapa sesungguhnya penciptanya, untuk apa diciptakan, melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, untuk berbuat baik di dunia dengan menegakkan keadilan, sehingga layak disebut sebagai makhluk yang mulia dibanding makhluk-makhluk lain yang diciptakan Allah.[9]

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[10] Dalam referensi yang lain disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarkat dan kebudayaan.[11] Dengan demikian, definisi-definisi tersebut dapat diverbalisasikan dalam sebuah definisi yang komperhensif bahwa pendidikan adalah seluruh aktivitas secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik terhadap semua aspek perkembangan kepribadian secara formal, informal maupun nonformal yang berjalan terus menerus untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

2. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan islam merupakan pendidikan yang bernuansa Islam atau pendidikan yang Islami. Secara psikologis, kata tersebut mengindikasikan suatu proses untuk pencapaian nilai moral, sehingga subjek dan objeknya senantiasa mengkonotasikan kepada prilaku yang bernilai, dan menjauhi sikap amoral.

Pendidikan dalam wacana keislaman lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’dib, riyadhah, irsyad, dan tadris. Masing-masing istilah tersebut memiliki keunikan makna tersendiri ketika disebut secara bersamaan. Namun, kesemuanya akan memiliki makna yang sama jika disebut salah satunya, sebab salah satu istilah itu sebenarnya mewakili istilah yang lain.  Atas dasar itu, dalam beberapa buku pendidikan Islam, semua istilah tersebut digunakan secara bergantian dalam mewakili peristilahan pendidikan Islam.[12]

Pendidikan Islam tidak hanya dipahami sebagai pendidikan yang berlabel Islam seperti madrasah-madrasah ataupun pondok pesantren, akan tetapi pendidikan Islam mencakup semua proses pemikiran, penyelenggaraan dan tujuan. Dalam sebuah buku “Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani, Irfani, Dan Burhani” karangan M. Suyudi disebutkan beberapa definisi pendidikan Islam menurut beberapa tokoh,[13] yakni:

  1. Muhammad Fadlil Al-Jamali. Pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya.
  2. Omar Mohammad Al-Toumy. Pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku dalam kehidupan, baik individu atau bermasyarakat serta berinteraksi dengan alam sekitar melalui proses kependidikan berlandaskan Islam.
  3. Muhammad Munir Mursyi. Pendidikan Islam adalah pendidikan fitrah manusia, karena Islam adalah agama fitrah, maka segala perintah, larangan dan kepatuhannya dapat mengantarkan mengetahui fitrah ini.

Imam al-Baidawi juga menafsirkan kata tarbiyah yang ada dalam al-qur’an. Dalam tafsirnya yang berjudul Anwar at-Tanzil wa ‘Asrar at-Ta’wil beliau mengemukakan bahwa makna tarbiyah yaitu menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan.[14]

Banyak definisi pendidikan Islam yang sudah dipaparkan oleh beberapa tokoh dan pakar pendidikan. K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari pun memiliki pandangan sendiri dalam memaknai pendidikan islam. Mengenai pelaksanaan pendidikan islam, K.H Ahmad Dahlan memberikan keterangan bahwa pendidikan islam hendaknya didasarkan pada landasan yang kokoh, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Landasan ini merupakan kerangka filosofis dalam merumuskan konsep dan tujuan ideal pendidikan islam, baik secara vertikal maupun horisontal. Sebagai manusia, paling tidak ada dua sisi tugas penciptaan manusia, yaitu sebagai abdi Allah dan khalifah di muka bumi. Dalam proses kejadiannya, manusia diberikan Allah ruh dan akal. Di sini eksistensi akal merupakan potensi dasar bagi peserta didik yang perlu dipelihara dan dikembangkan guna menyusun kerangka teoritis dan metodologis bagaimana menata hubungan yang harmonis secara vertikal maupun horisontal dalam konteks tujuan penciptanya.[15]

Melihat kondisi masyarakat indonesia yang pada saat itu dijajah, maka K.H Ahmad Dahlan pun mengambil terobosan untuk membuat sebuah organisasi Muhammadiyah yang masih dirasakan keberadaannya sampai sekarang. Di samping itu beliau juga mendirikan sekolah yang menggunaakan sistem pendidikan gubernmen. Sistem pendidikan ini mengadopsi pendidikan model barat karena menurutnya sistem inilah yang terbaik. Beliau menambah mata pelajaran agama dalam pendidikaan tersebut. Dengan kata lain ia berusaha untuk mengislamkan berbagai segi kehidupan yang tidak islami. Umat islam tidak diarahkan kepada pemahaman agama mistis, melainkan menghadapi dunia secara realistis.

Dalam pemikiran K.H Hasyim Asy’ari, beliau mengemukakan bahwasanya pendidikan islam merupakan sarana untuk mencapai kemanusiaannya sehingga manusia dapat menyadari siapa sesungguhnya penciptanya dan untuk apa diciptakan. Dalam sejarah pendidikan islam tradisional, khususnya di Jawa, beliau memiliki peran yang sangat besar di dalam dunia pesantren. Beliau digelari sebagai Hadrat Asy-Syekh (guru besar di lingkungan pesantren) karena peranannya yang sangat besar dalam pembentukan  kader-kader ulama pemimpin pesantren. Beliau juga berperan penting dalam mempertahankan sekolah pesantren tersebut yang pada waktu itu sekolah pesantren ingin dihapus oleh penjajah. Oleh karenanya, beliau juga aktif dalam organisasi politik melawan Belanda.[16] Di samping pesantren, K.H Hasyim Asy’ari juga berperan dalam mendirikan dan merintis organisasi kemasyarakatan Nahdhatul Ulama yang populer disebut NU. Organisasi sosial keagamaan ini memiliki maksud dan tujuan memegang teguh salah satu dari empat mazhab, serta mengerjakan apa saja yang menjadi kemashlahatan agama islam.[17]

Pada hakikatnya pendidikan islam adalah upaya sadar yang dilakukan untuk mengarahkan manusia pada derajat kemanusiaanya yang disesuaikan dengan bakat, kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Dengan demikian manusia akan mengetahui tugas dan kewajiban sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah.

  1. Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan merupakan sarana utama untuk mengembangkan kepribadian manusia. Faktor tujuan mempunyai peranan penting dalam pendidikan Islam, sebab akan memberikan standar, arahan, batas ruang gerak, dan penilaian atas keberhasilan kegiatan yang dilakukan. Dalam merumuskan tujuan pendidikan islam harus disesuaikan dengan kriteria dan karakter ilmu dalam Islam.[18]

Para pakar pendidikan islam sepakat bahwa tujuan dari pendidikan serta pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum diketahui, melainkan :[19]

  1. Mendidik akhlak dan jiwa peserta didik
  2. Menanamkan rasa keutamaan (fadhillah)
  3. Membiasakan anak didik dengan kesopanan yang tinggi
  4. Mempersiapkan peserta didik untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya dengan penuh keikhlasan dan kejujuran.

Imam Al-Ghazali berpendapat, “Sesungguhnya tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan pangkat dan bermegah-megahan. Hendaknya seorang pelajar jangan belajar mencari pangkat, harta, menipu orang-orang bodoh, ataupun bermegah-megahan dengan kawan”.[20] Jadi, menurut Al-Ghazali ini bahwa tujuan pendidikan islam tidak lain adalah untuk membentuk akhlak yang baik pada diri peserta didik.

Tujuan Pendidikan dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, terampil serta mandiri. Jika mengamati pendidikan saat ini, maka akan didapat suatu kenyataan bahwa Pendidikan Agama Islam ternyata masih jauh dari apa yang diharapkan. Pada dasarnya, keberhasilan Pendidikan Agama Islam dapat terwujud apabila seluruh aspek yang berhubungan langsung dengan pendidikan dapat bekerjasama dan saling membantu. Hubungan kerjasama yang dimaksud antara lain dari pihak sekolah dengan orang tua siswa, lembaga, dan  masyarakat demi meningkatkan keberhasilan Pendidikan Agama Islam.

Setiap tujuan harus mengandung nilai yang dirumuskan melalui observasi, pilihan, dan perencanaan, yang dilaksanakan dari waktu ke waktu. Apabila tujuan itu tidak mengandung nilai, bahkan dapat menghambat  pikiran sehat peserta didik, maka itu dilarang.[21]

  1. Metode Penelitian
    1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini tergolong pada penelitian kualitatif, yaitu dengan menganalisis sumber data yang ada. Penelitian ini juga termasuk penelitian pustaka karena objek utama penelitian adalah buku-buku dan literatur-literatur lain.

  1. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode dokumentasi, yaitu mengumpulkan sumber data primer dan sumber data sekunder.

  1. Metode Analisa Data

Langkah-langkah yang digunakan dalam pengolahan data ini adalah :

1) Langkah deskriptif, yaitu mendeskripsikan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari dalam pendidikan Islam.

2) Langkah interpretasi, yaitu menafsirkan gagasan-gagasan maupun pola pemikiran dari K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari yang dilihat dari segi bahasa ataupun segi historisnya.

3) Langkah komparasi, yaitu menelaah berbagai persamaan dan perbedaan dari gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari dalam pendidikan Islam.

4) Langkah analisis, yaitu melakukan analisis terhadap makna yang terkandung dalam keseluruhan gagasan K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari kemudian dijabarkan secara rinci.

5) Langkah pengambilan kesimpulan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

Al-Abrasyi, Muhammad ‘Athiyyah. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam. Bandung:CV Pustaka Setia.

Amelia, Mei. Pelajar Serang Warga di Galur, Lalin Senen-Pulogadung Sempat Macet.  News.detik.com, diakses pada hari Kamis, 26 April 2012 pukul 20.13.

An-Nahlawi, Abdurrahman. 1995. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani.

Arifin, Syamsul. 2010. Komparasi Pemikiran K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari tentang Pendidikan Islam. Malang.

Hasan, Muhammad Tholhah. Dinamika Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Jakarta: Lantabora Press.

http://www.artikata.com/arti-335819-komparasi.html, diakses pada tamggal 1 Mei 2012 pukul 5.57.

M. Djumransjah. 2004. Filasafat Pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing.

M. Suyudi. 2005. Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani, Irfani, Dan Burhani. Yogyakarta: Mikraj

Mulaiwan, Jasa Ungguh. 2005. Pendidikan Islam Integratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nata, Abuddin. 2005. Tokoh-Tokoh Pembaharuan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nazir, Mohammad. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Rifai, Muhammad. 2010. K.H Hasyim Asy’ari: Biografi Singkat 1871-1947. Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.

Sucipto, Hery. 2010. K.H Ahmad Dahlan Sang Pencerah, Pendidik dan Pendiri Muhammadiyah. Jakarta: Best Media Utama.

Suharto, Toto. 2006.  Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Suhartono, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.

Surakhmad, Winarno. 1986. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar dan Teknik Metode Mengajar. Bandung: Tarsito.

Tafsir, Ahmad. 2005. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosda Karya.

Taufik, Ahmat. 2005. Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam. Jakarta: Raja Grafindo.

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS. 2006. Bandung: Citra Umbara.


[1] Mei Amelia, Pelajar Serang Warga di Galur, Lalin Senen-Pulogadung Sempat Macet,  News.detik.com, diakses pada hari Kamis, 26 April 2012 pukul 20.13.

[2] Ibid.

[3] Syamsul Arifin, Komparasi Pemikiran K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asy’ari tentang Pendidikan Islam, (Malang, 2010), halaman 12.

[4] http://www.artikata.com/arti-335819-komparasi.html, diakses pada tanggal 1 Mei 2012 pukul 5.57

[5] Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Belajar Mengajar dan Teknik Metode Mengajar,  (Bandung: Tarsito, 1986), halaman 84.

[6] Mohammad Nazir, Metode Penelitian, (Bogor:Ghalia Indonesia, 2005), halaman 8.

[7] Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan,(Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 77

[8] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Rosda Karya, 2005), hlm.28

[9] Muhammad Rifai, K.H Hasyim Asy’ari : Biografi Singkat 1871-1947, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2010), halaman 85-86.

[10] Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra Umbara. 2006),  halaman 72.

[11] M. Djumransjah, Filasafat Pendidikan (Malang: Bayumedia Publishing, 2004),  halaman 22.

[12] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006),  halaman 10.

[13] M. Suyudi, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani, Irfani, Dan Burhani (Yogyakarta: Mikraj, 2005), halaman 55.

[14] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat,(Jakarta: Gema Insani, 1995), halaman 22.

[15] Hery Sucipto, K.H Ahmad Dahlan Sang Pencerah, Pendidik dan Pendiri Muhammadiyah, (Jakarta: Best Media Utama, 2010), halaman 120.

[16] Ahmat Taufik, Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam, (Jakarta:Raja Grafindo, 2005), halaman 140.

[17] Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaharuan Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), halaman 119.

[18] Jasa Ungguh Mulaiwan, Pendidikan Islam Integratif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), halaman 123.

[19] Muhammad ‘Athiyyah Al-Abrasyi, Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2003),  halaman 13.

[20] Ibid, halaman 14

[21] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), halaman 113-114.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s