MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

Oleh : Afdhol Abdul Hanaf, dkk

 

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

 

  1. A.    Lagu

Lagu yang diambil untuk diskusi pada kesempatan kali ini adalah lagu dari Ebiet G. Ade yang berjudul Titip Rindu Buat Ayah.

 

Ebiet G. Ade dengan Titip Rindu Buat Ayah[1]

DBottom of Form

i matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia


 
  1. B.     Cerita/Peristiwa

Tanggung Jawab Seorang Laki-Laki

Suatu ketika, ada seorang anak perempuan bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja ia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut. Badannya yang sudah tak muda lagi disertai suaranya yang terbatuk-batuk. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dan badan Ayah kian hari kian terbungkuk?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab, “Sebab aku Laki-laki.” Anak perempuan itu berguman,” Aku tidak mengerti…” dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak perempuannya itu. Sambil menepuk-nepuk bahunya, Ayahnya lalu mengatakan, “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki.” Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak perempuan itu menghampiri Ibunya lalu bertanya, “Ibu mengapa wajah Ayah menjadi berkerut-kerut dan badannya kian hari kian tua? Dan sepertinya Ayah mengalaminya tanpa ada keluhan dan rasa sakit?” Ibunya menjawab, “Anakku… jika seorang laki-laki benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga, memang akan terjadi demikian.” Hanya itu jawaban sang Bunda.

Anak perempuan itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak perempuan itu bermimpi. Di dalam mimpi itu, ia seolah-olah mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Ternyata, kata-kata yang terdengar dengan jelas itu adalah suatu rangkaian kalimat jawaban atas rasa penasarannya selama ini.

  • “Saat Kuciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga. Dia akan senantiasa menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi.”
  • “Kuciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya. Kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”
  • “Kuberikan kemauan keras padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang halal dan bersih yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri; agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari istri dan  anak-anaknya itu.”
  • “Kuberikan keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup dan kedinginan tersiram hujan dan dihembus angin. Dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya. Yang selalu dia ingat adalah saat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”
  • “Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa keluh kesah, walaupun di setiap perjalanan hidupnya letih dan sakit berkali-kali menyerang.”
  • “Kuberikan perasaan keras namun gentle untuk berusaha berjuang demi mencintai keluarganya, di dalam kondisi & situasi apapun, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman saat anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.”
  • “Kuberikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya. Istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup, baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan diuji oleh istrinya, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.” Nuh AS dan Istrinya
  • “Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha berpikir sekeras-kerasnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup dalam kebahagiaan. Kuberikan bungkuk di badannya agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga segenap perasaan, kekuatan dan keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”
  • “Kuberikan kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di dunia dan akhirat.”

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. “AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”

 

  1. C.    Renungan

Dari cerita di atas dapat kita rasakan bagaimana perjuangan seorang ayah demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Walaupun sang ayah telah menginjak usia tua, akan tetapi perjuangannya tidak pernah pudar. Wajah berkerut-kerut dan kesehatan fisik yang melemah menjadi resiko sebagai seorang ayah dalam melaksanakan tugasnya. Karena fisik yang mulai lemah ini, anak perempuannya pun penasaran. Sang anak bertanya kepada ayahnya kenapa semua itu bisa terjadi. Ayah semakin kurus, membungkuk, berkerut, bahkan kulitnya hitam layaknya abu fulkanik. Ayah yang bijaksana menjawab dengan singkat, “karena saya adalah laki-laki”. Inilah jawaban yang penuh dengan makna. Seorang lelaki merupakan kepala keluarga di mana harus bisa memberikan nafkah dan bisa melindungi keluarganya. Walaupun keadaan ayah yang semakin tidak memungkinkan untuk bekerja keras dan membanting tulang, akan tetapi ia tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarganya. Inilah tanggung jawab yang sesungguhnya. Nyawa pun dikorbankan demi melaksanakan apa yang telah  menjadi tanggung jawabnya.

Penjelasan yang singkat dari ayahnya membuat anak perempuan ini belum mengerti. Hingga akhirnya anak itu bermimpi dan menemukan jawaban yang selama ini dibuatnya penasaran. Ia baru sadar bahwa ayah merupakan sosok orang yang pekerja keras dan sangatkan bertanggung jawab. Allah telah menugaskan kepada laki-laki untuk menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Seberat apapun tanggung jawab yang dipikulnya, Allah tetap tidak memberi beban kepada hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Inilah yang menjadi pertimbangan bahwa semua manusia bisa melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bahwa manusia tidak bisa melaksanakan dan memenuhi apa yang diamanahkan-Nya.

Pada hakekatnya kita semua adalah pemimpin,  baik itu pemimpin di suatu organisasi, pemimpin dalam rumah tangga atau bahkan pemimpin untuk dirinya sendiri. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhori). Seseorang yang memimpin di kantor, akan mempertanggungjawabkan semua tugasnya di kantor. Seorang pemimpin dalam rumah tangga bertanggung jawab kepada anggota keluarganya, yaitu dengan membina istri dan anak-anaknya dalam rangka menciptakan keluarga yang  sakinah, mawaddah, warahmah. Tidak luput mahasiswa pun memiliki tanggung jawab yang besar dalam menuntut ilmu. Semua hal yang menjadi kewajiban bagi mahasiswa haruslah dipenuhi. Semua itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Dalam Islam, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Seorang pemimpin harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya tidak hanya kepada yang memberikan amanah dan para anggota yang dipimpinnya. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah SWT. Jadi, dalam Islam dimensi bertanggungjawab tidak hanya bersifat horizontal, tetapi juga bersifat vertikal.

 

  1. D.    Refleksi

Melalui serangakain cerita di atas, dapatlah kita jadikan sebuah refleksi bahwasanya sebagai seorang laki-laki atau lebih tepatnya sebagai seorang suami haruslah dapat melindungi, mengayomi, memeberikan ketentraman, serta memberikan nafkah lahir dan batin bagi istrinya dan anak-anaknya, notabene merupakan sebuah tanggung jawab dan amanah yang harus dipikul oleh seorang suami. Apakah kita seorang laki-laki mampu  mengemban tanggung  jawab ini ? Tentu saja kita bisa, meskipun itu tidak mudah dan memerlukan tindakan nyata dan  sungguh-sungguh untuk menjadi seorang suami yang dapat mengemban tanggung jawab dan amanah yang berat ini.

       Semua ini bisa kita lakukan  sebagai seorang suami asalakan kita mau untuk bertindak atau berusaha keras dan bersikap optimis, karena hanya dengan modal itulah kita sebagai seorang suami dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan haruslah kita yakin bahwasanya Allah telah menciptakan seorang laki-laki sebagai manusia yang kuat baik fisik maupun batinya, kodrat Allah ini haruslah kita gunakan dengan stategi jitu agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga, tidak ada alasan bagi seorang suami yang tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya kecuali sang suami sedang sakit.

Sebagai seorang suami haruslah kita dapat mengemban amanah ini, karena ini merupakan sebuah tanggung jawab kita terhadap keluarga dan Allah SWT. Sebagai seorang suami yang sejati kita akan sedih ketika melihat kondisi keluarga kita yang tidak bahagia dan hidup dalam kekurangan, kondisi yang demikian haruslah dapat menjadi cambuk bagi kita sebagai seorang suami untuk sadar akan tanggung jawab dan amanah yang kita emban, sehingga kita berusaha keras untuk mengentaskan keluarga dari kondisi kekurangan , bukan malah menghindar dari tanggung jawab dan amanah yang kita emban layaknya seorang suami pengecut yang hanya bisa menyusahkan keluarga.

Dan disinilah ruang untuk kita sebagai seorang wanita yang berkedudukan sebagai ibu dalam keluarga terus memberikan dorongan,semangat, dan dukungan kepada seorang suami untuk berusaha keras mengentaskan keluarga dari jurang kekurangan,bukan malah menyalahkan suami karena tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, dengan sikap kita yang demikian  malah akan membuat suami semakin terperosok dan akan lari dari tanggung jawab dan amanah yang ditanggungnya.

 

  1. E.     Pendalaman Materi
    1. Tanggung Jawab
      1.  Pengertian

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.[2] Tanggung jawab timbul karena telah diterima wewenang. Tanggung jawab juga membentuk hubungan tertentu antara pemberi wewenang dan penerima wewenang. Jadi tanggung jawab haruslah seimbang dengan wewenang. Sedangkan menurut WJS. Poerwodarminto, tanggung jawab adalah sesuatu yang menjadi kewajiban (keharusan) untuk dilaksanakan, dibalas dan sebagainya.

Apabila terjadi sesuatu maka seseorang yang diberi tanggung jawab wajib menanggung segala sesuatunya yang terjadi. Oleh karena itu manusia yang bertanggung jawab adalah manusia yang dapat menyatakan diri sendiri bahwa tindakannya itu baik dalam arti menurut norma umum, sebab baik menurut seseorang belum tentu baik menurut pendapat orang lain.

Dengan kata lain, tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.[3]

  1. b.  Macam-macam Tanggung Jawab

Manusia dalam menjalani hidupnya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan juga untuk keperluan pihak lain. Dalam usahanya tersebut manusia harus menyadari bahwa usahanya tidak lepas dari bantuan Tuhan. Tanggung jawab menurut keadaan atau hubungan yang dibuatnya dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu :[4]

  1. Tanggung Jawab terhadap diri sendiri

Tanggung jawab terhadap diri sendiri menentukan kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk bermoral dan juga seorang pribadi yang memiliki pendapat sendiri, perasaan sendiri, serta angan-angan sendiri. Dalam hal itu manusia juga tidak pernah luput dari kesalahan dan kekeliruan yang disengaja maupun tidak.

 Contoh dari sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri misalnya sebagai seorang pelajar kita haruslah mengerti dan menyadari posisi kita untuk senantiasa belajar dan mengerjakan segala pekerjaan rumah dengan penuh dedikasi, karena hal-hal seperti itulah yang akan mempengaruhi kesuksesan kita sendiri pada akhirnya. Hal-hal tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan orang lain, karena yang menentukan jalan hidup kita, masa depan kita adalah kita sendiri.

  1. Tanggung Jawab terhadap keluarga

Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami, isteri, ayah, ibu, anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarga. Tanggung jawab ini tidak hanya menyangkut nama baik keluarga, akan tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan dan kehidupan.

Misalnya seorang anak memiliki tanggung jawab kepada keluarganya untuk selalu menjaga dan melindungi nama baik keluarganya setiap saat dengan cara bertindak dan berperilaku dengan sopan dan santun sesuai dengan aturan yang ada dalam masyarakat dan tidak melanggar aturan-aturan tersebut.

  1. Tanggung Jawab terhadap masyarakat

Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai mahluk sosial. Oleh karena  tidak bisa hidup sendiri, maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain. Manusia disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lainnya agar dapat melangsungkan hidupnya. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.

Misalnya setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam masyarakat misalnya tanggung jawab untuk menjaga kebersihan, keamanan, dan ketentraman di lingkungan masyarakat tersebut.

  1. Tanggung Jawab terhadap Negara

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia merupakan bagian dari suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.

Misalnya masing-masing dari kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk Negara yakni menjaga persatuan dan kesatuan Negara dengan mengikuti hukum dan tata tertib berbangsa dan bernegara yang diterapkan di Negara tersebut.

  1. Tanggung Jawab Terhadap Tuhan

Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, setiap manusia diberi tanggung jawab masing-masing. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukum-hukum Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukum-hukum tersebut akan segera diperingatkan oleh Tuhan dan juga dengan peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah Tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan manusia terhadap Tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawab, manusia perlu pengorbanan.

Misalnya ketika manusia tidak bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya maka segala sesuatu yang terjadi akan ditanggung sendiri yang merupakan akibat dari kelalaian menjalankan tanggung jawab. Walaupun manusia mencoba menutupi perbuatan buruknya dengan harta, kekuasaan, atau kekuatannya namun ia tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya kepada Tuhan.[5]

  1. Pengorbanan
    1.  Pengertian

Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti memberikan secara ikhlas harta, benda, waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin nyawanya demi ikatannya dengan sesuatu atau demi kesetiaan dan kebenaran.[6] Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas, karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan, sulit dikatakan pengabdian karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya. Tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman. Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan sedangkan, pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya, waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.[7]

Pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian, dengan penuh rasa ikhlas dan tidak mengandung pamrih. Perbedaan antara pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Jika ada pengabdian, maka ada pengorbanan. Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan, sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu.[8]

b. Macam-macam pengorbanan

Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, dan kapa saja diperlukan. Adapun macam-macam pengorbanan, yaitu:[9]

  1. Pengorbanan kepada keluarga

Pada hakikatnya manusia hidup berkeluarga yang didasari oleh kasih sayang. Dalam kasih sayang tersebut tentunya sangat dibutuhkan suatu pengorbanan, karena tanpa adanya pengorbanan maka tidak akan ada kasih dan cinta.

Contohnya Siti Nurbaya mau berkorban menikah dengan Datuk Maringgih, seorang laki-laki yang dibenci demi cintanya dengan sang ayah.

  1. Pengorbanan kepada masyarakat

Manusia merupakan makhluk sosial karena mereka tidak bisa hidup sendiri dan saling membutuhkan. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki keterikatan dengan masyarakatnya. Oleh karena itu demi terjaganya tanggung jawab tersebut maka ia harus melakukan pengorbanan.

Misalnya Dr. Tono aktif sebagai dokter yang baik dan bahkan mengorbankan istrinya dirumah untuk kepentingan masyarakat. Akan tetapi dengan pengorbanan tersebut istrinya menjadi marah dan akhirnya sering terjadi konflik.

  1. Pengorbanan kepada bangsa dan negara

Setiap manusia di bumi menyadari bahwa mereka merupakan anggota suatu negara dan bangsa. Sebagai anggota, wajib bagi mereka untuk membela negaranya sendiri. Pembelaan tersebut yang dinamakan pengorbanan. Misalnya Kumbakarno seorang raksasa yang berjiwa ksatria yang menentang perintah kakaknya untuk membunuh Rama karena kakanya di pihak salah. Dia tidak membela kakanya tetapi menjadi panglima perang untuk membela negaranya dan mengorbankan jiwa raganya.

  1. Pengorbanan karena kebenaran

Ada peribahasa berani berkata benar, takut karena salah. Demi kebenaran orang tidak akan takut menghadapi apapun. Perang kemerdekaan pada hakikatnya perang untuk membela kebenaran dan tentunya tidak sedikit memakan korban. Misalnya perang antara Rama dan Rahwana karena Rahwana menculik istri Rama.

  1. Pengorbanan kepada agama

Berkorban demi agama berarti juga bekorban demi cintanya kepada Allah. Hal ini terjadi karena manusia merupakan makhluk ciptaan Allah, karena itu wajib bagi manusia untuk berkorban demi cintanya kepada agama dan juga kepada penciptanya. Agama pada hakikatnya adalah kebenaran.

  1. Pengabdian 
    1.  Pengertian

Pengabdian berasal dari kata ‘abdi’ yang berarti ‘hamba’ atau ‘pelayan’. Bila rujukan kata pengabdian demikian, maka ada dua kategori yaitu ada ‘yang mengabdi’ dan ada ‘yang diabdi’. Pengabdian merupakan perbuatan baik berupa pikiran, pendapat, ataupun tenaga. Hal ini merupakan perwujudan kesetiaan, cinta kasih sayang, hormat, ataupun suatu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Timbulnya pengabdian pada hakikatnya adalah rasa tanggung jawab.[10]

Pengabdian lebih bersifat psikis. Dengan adanya perubahan yang terjadi dimasyarakat, maka cara-cara dan bentuk pengabdian juga mengalami perubahan[11]. Ini berarti bahwa pengabdian merupakan kegiatan mengabdiakan diri atau melayani orang lain dengan penuh kesadaran.

b. Macam – macam Pengabdian

Pengabdian bermacam-macam bentuknya. Yang paling dasar adalah pengabdian kepada keluarga, kepada Tuhan, dan kepada negara. Pengabdian kepada keluarga, bisa dilakukan dengan menjaga nama baik keluarga, dan tidak melanggar norma dan akidah yang berlaku. Menjaga nama baik bisa dilakukan dengan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan, mensejahterakan keluarga, dan banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan sikap mengabdi.

Pengabdian kepada Tuhan, sangat wajib dan tidak boleh dinomorduakan. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan. Dengan tekun beribadah, mengamalkan perbuatan-perbuatan baik, dan tidak melanggar laranganNya. Pengabdian kepada negara, juga merupakan kewajiban buat manusia atau individu sebagai warga negara. Misalnya seorang pegawai negeri yang bersedia ditempatkan di luar daerahnya untuk bekerja.

Berikut macam-macam pengabdian, yaitu:[12]

  1. Pengabdian terhadap Tuhan yang Maha Esa Yaitu penyerahan diri secara penuh terhadap Tuhan dan merupakan perwujudan tanggung jawabnya yang juga diikuti oleh pengorbanan. Contoh: Umat Islam melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari, melakukan zakat, melaksanakan kurban dan sebagainya, itu semua tidak lain adalah untuk pengabdian kepada Tuhan yang Maha Esa.
  2. Pengabdian kepada masyarakat Ini timbul karena manusia dibesarkan dan hidup dalam masyarakat, sehingga sebagai perwujudan tanggung jawabnya kemudian melakukan pengabdian juga pengorbanan. Contoh: Seorang mahasiswa yang telah lulus, kemudian berusaha memajukan pendidikan di desanya dengan mendirikan sekolah, walaupun tanpa imbalan apapun, ia lakukan demi kemajuan desanya.
    1. Pengabdian kepada raja Yaitu suatu penyerahan diri secara ikhlas kepada rajanya, karena dianggap yang melindunginya, walaupun sekarang jarang terjadi. Contoh: Seorang gadis dengan suka rela dijadikan selir oleh rajanya.
    2. Pengabdian kepada negara Timbul karena seseorang merasa ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian (kelangsungan) negara dan demi persatuan kesatuan bangsa. Contoh: Dalam usaha merebut kembali Irian Barat dari penjajah Belanda, banyak pemuda yang mendaftarkan diri menjadi sukarelawan.
    3. Pengabdian kepada harta Ini terjadi karena seseorang memandang bahwa harta yang menghidupinya, sehingga tindakan- tindakannya semata- mata demi harta. Kadang- kadang ia tanpa menyadari justru mengorbankan dirinya untuk mempertahankan hartanya, yang akhirnya tidak dapat menikmati hartanya.
    4. Pengabdian kepada keluarga Ini timbul karena keinginan untuk membahagiakan keluarga dengan terpenuhinya kebutuhan secara lahir dan batin secara layak.

Jadi dengan melihat pengertian maupun macam- macam pengabdian, memahami arti dan makna pengabdian dan pengorbanan, diharapkan kita meneladaninya, karena sebenarnya hakekat pengabdian/ pengorbanan adalah merupakan usaha memikul tanggung jawab dan melaksanakan kewajiban sebagai manusia.

Pengabdian dapat berupa:

                              1.         Pengabdian kepada masyarakat, patriotisme merupakan contoh pengabdian terhadap bangsa dan negara.

                              2.         Pengabdian kepada Tuhan, para pendeta atau biarawan dan ulama adalah orang yang mengabdikan diri kepada Tuhan YME[13].

Pengabdian yang dilakukan oleh masyarakat, yang dilakukan oleh perguruan tinggi dapat diartikan sebagai pengamalan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK) dapat terlambangkan melalui metode ilmiah yang diterapkan langsung kepada masyarakat, sebagai upaya menyukseskan pembangunan. Pengabdian merupakan kegiatan lapangan dalam upaya membuktikan kebenaran teoritis, menyelesaikan masalah sosial, sambil berusaha menemukan hal-hal baru dalam ilmu pengetahuan, teknologi,  seni, serta memanfaatkan dalam segala aspek kehidupan umat manusia[14].

 Daftar Pustaka

Ali, Mohammad. 2008. Pedoman Program Pengabdian Kepada Masyarakat,Departemen Agama: Dirjen Pendidikan Islam. Jakarta

Aryadini, Woro. 2000. Manusia dalam tinjauan Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: UI-Press

Fey. Makalah Manusia dan Tanggung Jawab. http://feycomunity.blogspot.com/2009/ 05/makalah-manusia-dan-tanggung-jawab.html. diakses pada tanggal 6 Mei 2012 pukul 15.02

http://ocw.gunadarma.ac.id/course/psychology/study-program-of-psychology-s1/ilmu-budaya-dasar/manusia-dan-tanggung-jawab

Marwadi dan Nur Hidayati. 2000. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar. Bandung: Pustaka Setia

Mustofa, Ahmad. 1999. IBD: Ilmu Budaya dasar. Bandung: Pustaka setia

Prihono, Dan. Pengabdian dan Pengorbanan. http://danprihono.blogspot.com/2011/04/ pengabdian-dan-pengorbanan.html. diakses pada tanggal 5 Mei 2012 pukul 14.07

Suyadi. 1984. Buku Materi Pokok Ilmu Budaya Dasar. Depdikbud

Widagdho, Djoko dkk. 1999. Ilmu Budaya Dasar., Jakarta: Bumi Aksara

www.kapanlagi.com, Ebiet G. Ade dengan Titip Rindu Buat Ayah. diakses tanggal 04 Mei 2012 pukul. 00.07 WIB.

Ulumia, Dian. 2011. Macam-macam Tanggung Jawab. http://dianulumia.blogspot. com/2011/ 05/tanggung-jawab.html. diakses pada tanggal 6 Mei 2012 pukul 15.15


[1]www.kapanlagi.com, Ebiet G. Ade dengan Titip Rindu Buat Ayah, diakses tanggal 04 Mei 2012 pukul. 00.07 WIB.

[2] Djoko Widagdho dkk, Ilmu Budaya Dasar, Jakarta: Bumi Aksara, 1999, Hal. 144

[3] Fey, Makalah Manusia dan Tanggung Jawab, http://feycomunity.blogspot.com/2009/ 05/makalah-manusia-dan-tanggung-jawab.html, diakses pada tanggal 6 Mei 2012 pukul 15.02

[4] Ahmad Mustofa,  IBD: Ilmu Budaya dasar, Bandung: Pustaka Setia, 1999, hlm.134

[5] Suyadi, Buku Materi Pokok Ilmu Budaya Dasar, depdikbud, 1984, hlm 90

[6] Djoko Widagdho dkk, op. cit. Hlm. 153

[8]Dan Prihono, Pengabdian dan Pengorbanan, http://danprihono.blogspot.com/2011/04/ pengabdian-dan-pengorbanan.html, diakses pada tanggal 5 Mei 2012 pukul 14.07

[9] Ahmad Mustofa, op. cit. Hlm. 141

[10] Ibid., hal. 136

[11] Woro Aryadini, Manusia dalam tinjauan Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta: UI-Press, 2000), hlm 71

[12] Djoko Widagdho dkk, op. Cit. Hal. 149

[13] Woro Aryadini, Manusia dalam tinjauan Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta: UI-Press, 2000), hlm 71.

[14] Mohammad Ali [et.al], Pedoman Program Pengabdian Kepada Masyarakat,Departemen Agama; dirjen Pendidikan Islam, (Jakarta, 2008). Hlm 114.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s