KONSEP PENDIDIKAN BERORIENTASI PADA PROBLEM SUBYEK DIDIK

Oleh : Afdhol Abdul Hanaf, dkk

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan pada umumnya dapat terlaksana karena adanya berbagai faktor seperti pendidik, subyek didik, kurikulum, pengelola, sarana dan prasarana serta penyeimbang. Subyek didik dapat disebut dengan murid, siswa, pelajar, santri, peserta didik, atau mahasiswa yang merupakan pelaku utama dalam pendidikan. Sebenarnya pelaku utama dalam pendidikan yaitu subyek didik, karena subyek didik yang mengalami proses pendidikan secara langsung yaitu mengalami proses berubah dan mengalami proses menjadi. Sedangkan seorang pendidik seperti guru, dosen, pengajar, ustadz, juga merupakan salah satu faktor yang tidak kalah pentingnya dalam dunia pendidikan, karena mereka mendampingi, memfasilitasi, membimbing, mengarahkan, menasehati, memberi contoh, memotivasi, dan memberikan nilai pada subyek didik.

Saat ini pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada teacher centered (berpusat pada guru), sehingga akan menyebabkan peserta didik kurang berperan aktif dan sulitnya berkembang pola pemikiran yang dimiliki. Jadi pendidikan harus dirubah menjadi student centered (berpusat pada siswa). Dengan adanya perubahan tersebut diharapkan akan dapat memberikan rekonstruksi terhadap arah pendidikan di dalam usaha meletakkan dasar yang paling rasional. Untuk mengubah praktek pendidikan dalam rangka membawa masyarakat yang demokratis, religius dan tangguh menghadapi tantangan internal maupun global. Dengan kerangka ini, maka orientasi proses belajar mengajar dalam pendidikan islam, harus bersifat terbuka, penuh dialog dan bertanggung jawab. Proses belajar yang terjadi bersifat egalitarian antara pendidik dan peserta didik, pengajan tidak harus selalu bersifat Top Down namun diimbangi dengan Bottom Up, tidak lagi terjadi pemaksaan kehendak pendidik dan yang dilakukan adalah tawar menawar kedua belah pihak dalam menentukan tujuan, materi, proses belajar mengajar, dan sistem evaluasi hasil belajar.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Konsep Pendidikan

 Konsep berasal dari bahasa Inggris “concept” yang berarti “ide yang mendasari sekelas sesuatu objek” dan “gagasan atau ide umum”. Kata tersebut juga berarti gambaran yang bersifat umum atau abstrak dari sesuatu.    Sedangkan pengertian pendidikan menurut Mohammad Natsir adalah suatu pimpinan jasmani dan ruhani menuju kesempurnaan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya. Sedangkan menurut hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai: “bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.”(Muzayyin Arifin, 2003: 15)[1]

  1. Pendidikan Agama Islam Berorientasi pada Problem Subyek Didik

Pendidikan pada umumnya bisa terlaksana karena adanya berbagai unsur seperti subyek didik, pendidik, kurikulum, pengelola, pembiayaan, dan sebagainya. Yang dimaksud subyek didik di sini adalah murid, pelajar, santri, atau peserta didik. Disebut sebagai subyek didik karena mereka yang mengalami secara langsung, yaitu proses berubah dan mengalami proses yang menjadi.[2]

Pendidik yang biasa disebut dengan guru, pengajar, ustad, atau dosen menjadi faktor yang sangat penting berikutnya dalam pendidikan. Mereka yang mendampingi, membimbing, mengarahkan, menasehati, dan menilai subyek didik.[3] Demikian pula kurikulum, pengelola, pembiayaan, ataupun sarana dan prasarana menjadi faktor penting dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Pendidikan Agama Islam pada lembaga pendidikan formal (sekolah, madrasah dan perguruan tinggi) selama ini lebih berorientasi pada norma atau ajaran agama Islam daripada berorientasi pada problem yang ada pada subyek didik.[4] Sedangkan menurut para pakar pendidikan, Pendidikan Agama Islam seharusnya berorientasi pada subyek didik.  Mereka melakukan penelitian secara mendalam terhadap subyek didik. Dari hasil penelitian tersebut kemudian dirancang model pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan subyek didik, maksudnya berangkat dari kondisi obyektif subyek didik. Kondisi obyektif subyek didik difahami dan diteliti sampai ditemukan persoalan-persoalan laten yang ada pada mereka. Dari persoalan-persoalan itu dicarikan solusinya dari ajaran Islam. Misalnya saja persoalan pada subyek didik seperti kenakalan, perkelahian, pergaulan bebas, dan hilangnya pola pikir kritis dan kreatif.

Menurut Fazlur Rahman, agama itu untuk menyelesaikan problem-problen yang dihadapi umat manusia.[5] Pendapat ini didasarkan pada logika bahwa apabila persoalan yang dih   adapi umat manusia dapat terselesaikan dengan baik maka kelangsungan hidup mereka akan dapat terpelihara dengan baik.

Salah satu persoalan utama yang ada pada subyek didik adalah berkurangnya pola pikir kritis dan krearif. Sudah relatif lama hal ini terjadi pada dunia pendidikan umat islam. Pola pikir kritis dan kreatif juga sudah pudar sejak beberapa dasa warsa lalu pada pendidikan di indonesia. Hal ini mungkin salah satu akibat dari sistem pendidikan orde baru yang menekankan pada keseragaman, dengan kurang menghargai berbagai perbedaan. Sejalan dengan munculnya era reformasi yang memberikan kebebasan, mulai muncul pula pola pikir kritis dan kreatif.

Pola pikir kritis dan kreatif perlu dikembangkan pada subyek didik untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Subyek didik yang kritis dan kreatif mempunyai tiga cara utama, yaitu: memiliki pola pemikiran asli atau orisinil (originality), mempunyai keluesan (fleksibility), menunjukkan kelancaran proses berfikir (fluency). Dengan kata lain subyek didik dapat diketahui dari:[6]

  1. Sensitif tidaknya mereka dalam melihat suatu masalah
  2. Orisinal tidaknya ide atau pemikiran yang dikemukakan
  3. Lancar tidaknya mereka dalam mengemukakan ide
  4. Fleksibel tidaknya dalam berfikir
  5. Mampu tidaknya mereka dalam mengutarakan kembali pengetahuan yang dimiliki

Kurikulum pendidikan dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan subyek didik memiliki pola pikir kritis dan kreatif. Pembelajaran yang dapat merangsang munculnya pola pikir kritis dan kreatif perlu diperbanyak. Misalnya, subyek didik yang diberi kesempatan untuk membuat karangan bebas. Melalui karangan bebas, mereka dapat menuangkan gagasan secara leluasa. Bisa juga dengan metode diskusi. Metode ini dilakukan secara terbuka, subyek didik bisa secara leluasa mengadakan diskusi, tanpa ada rasa takut dan batasan untuk mengemukakan gagasan-gagasan mreka. Dapat juga dalam pendidikan agama islam, perlu juga ditanamkan teori Need For Achievement (keinginan untuk berhasil) kepada subyek didik. Menurut teori ini, semakin kuat kemauan subyek didik, akan semakin memungkinkan untuk mencapai hasil yang diharapkan.[7]

  1. Proses Pendidikan Yang Berorientasi Pada Subyek Didik

Proses belajar mengajar yang pragmatik akan tercipta suasana kondusif bagi demokratisasi pendidikan, maka dalam proses pengajaran pragmatik, peran pendidik tidak monopoli, artinya guru bukan satu-satunya sumber belajar dalam memberi informasi. Selama ini kondisi dunia pendidikan di Indonesia dalam proses belajar mengajarnya lebih didominasi oleh guru, sehingga peserta didik lebih bersifat pasif, artinya peserta didik hanya duduk mendengarkan dan mencatat penjelasan yang disampaikan oleh guru dan apabila ada pertanyaan dari peserta didik, kandungan pertanyaannya kurang problematik dan analistik. Hal ini menunjukkan bahwa materi pelajaran yang disampaikan guru kurang problematik dan analistik. Oleh karena itu, model belajar semacam ini sudah harus ditinggalkan dan dirubah serta diorientasikan kepada CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Apabila konsep ini dilaksanakan, tentu akan menuntut akan fungsi guru, yaitu :[8]

  1. Pendidik sebagai  fasilitator, yaitu pendidik harus mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba mencari dan menemukan sendiri mana informasi yang diterimanya.
  2. Pendidik sebagai dinamisator, yaitu pendidik harus berusaha dan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif.
  3. Pendidik sebagai mediator, yaitu pendidik harus mampu memberikan arahan dalam belajar, supaya peserta didik bebas dan mampu belajar sendiri.
  4. Pendidik sebagai motivator, yaitu pendidik harus selalu memberikan dorongan atau motifasi agar peserta didik bersemangat untuk belajar.

Jadi dalam proses pendidikan, seorang pendidik harus mampu memposisikan dirinya sebagai fasilitator, dinamisator, mediator dan motivator, sehingga dapat memberdayakan peserta didik untuk mempu mencari dan menemukan sendiri informasi yang diterimanya.

Proses belajar mengajar harus terbuka, penuh dialog, bertanggung jawab antara pendidik dan peserta didik serta interaksi antara keduanya dalam bentuk egaliter dan kesetaraan (equity). Dengan adanya kesetaraan, kebebasan berinisiatif, berbeda aspirasi, perbedaan pendapat, dan keadilan, maka pendidikan akan terakomodasi dengan baik, sebab pendidikan merupakan sarana terpenting untuk mencapai kemerdekaan. Dalam konteks ini, desain demokratisasi pendidikan harus terjadi ke segala arah, yaitu dari pendidik ke peserta (Top Down), dari peserta didik ke pendidik (bottom Up), dan antara peserta didik sendiri  (network). Apabila peserta didik hanya bertahan pada posisi model komunikasi Top Down, tentu pendidik akan merasa capek. Tidak hanya berimbas pada guru saja, peserta didik pun sulit untuk mengerti, merasa bosan, pasif, mengantuk, dan lebih parah lagi pesrta didik tidak mendapatkan informasi baru. Sebaliknya, apabila proses belajar mengajar didesain dengan model komunikasi network dan student centered, mak sumber belajar bukan hanya terletak pada pendidik saja. Peserta didik ikut berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga akan terjadi proses belajar yang dialogis dan demokratis.

Selama ini sangat dirasakan bahwa proses pendidikan khususnya pendidikan islam terkesan menganut asas Subject Matter Oriented. Asas ini membebani peserta didik dengan informasi-informasi kognitif dan motorik yang kadang-kadang kurang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologi peserta didik. Dalam upaya mendukung pelaksanaan demokratisasi pendidikan, tibalah saatnya mengubah asas Subject Matter Oriented ke Student Oriented. Proses pendidikan islam harus diorientasikan kepada pendidikan yang bersifat student oriented. Proses ini lebih menekankan kepada perkembangan potensi dan kebutuhan peserta didik secara utuh baik jasmani maupun rohani.

Kondisi yang dikemukakan diatas, tentu akan merubah budaya proses pendidikan selama ini. Dalam suasana proses belajar mengajar yang demokratis tentu akan terjadi kesetaraan dan kebersamaan antara pendidik dengan peserta didik. Dengan demikian, dalam proses pendidikan perlu dikembangkan komunikasi struktural dan kultural antara pendidik dengan peserta didik sehingga akan terjadi interaksi yang sehat dan bertanggungjawab. Peserta didik boleh saja berpendapat dan mungkin saja berbeda pendapat dengan pendidiknya, asalkan ada argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, peserta didik bukan hanya memahami teori demokrasi tetapi juga dapat menjalani latihan-latihan seperti berdebat dan menghargai pendapat orang lain.

Ada dua unsur penting dalam proses belajar mengajar yaitu :[9]

  1. CBSA

Suatu cara belajar dimana peserta didik mengambil bagian dalam berbagai kegiatan dengan keterlibatan mental yang optimal, sekaligus motivasi yang optimal untuk melaksanakan kegiatan belajar tersebut, sehingga CBSA tidak hanya dilihat dari keterlibatan fisik, melainkan lebih banyak dilihat dari keterlibatan proses mental. Jadi CBSA tidak mengubah cara mengajar guru menjadi pasif, tetapi justru guru dituntut untuk mengajar secara kreatif sehingga peserta didik menjadi lebih aktif dan kreatif. Indikator adanya CBSA adalah sebagai berikut :[10]

  1. Adanya prakarsa peserta didik dalam kegiatan belajar
  2. Adanya keterlibatan peseta didik dalam kegiatan belajar
  3. Peran gur  u lebih banyak sebagai fasilitator yang mampu membangkitkan kreasi peserta didik
  4. Belajar lebih banyak ditujukan untuk menghayati dan mengalami secara langsung
  5. Penggunaan variasi dalam bentuk alat dan sumber belajar
  6. Adanya kualitas interaksi antara peseta didik antara interaksi intelektual maupun sosio-emosional
  7. Pengelolaan kelas

Banyak terjadi di sekolah yang sebenarnya memiliki potensi untuk maju dan berkembang dengan baik, sebab sekolah tersebut memiliki peserta didik dengan kualitas prima, sarana lengkap, pendidikannya cukup baik, tetapi interaksi belajar mengajar menjadi semrawut akibat salah urus dalam mengelola kelas.

Selama ini praktek pendidikan kita masih berorientasi kepada muatan materi, kalau terdapat perubahan baru bergeser ke arah pemusatan pada guru, belum sampai orientasi kepada siswa (proses belajar). Sesungguhnya hakekat mengajar adalah melatih dan membantu bagaimana siswa dalam melakukan kegiatan belajar.

Penerapan CBSA dalam proses belajar mengajar

Pada tahap pra-instruksional yang dilakukan oleh guru adalah mata merumuskan TIU dan TIK yang berorientasi pada muatan materi tanpa melihat kondisi yang sebenarnya yang dialami oleh siswa. Lebih parah lagi, kenyataan yang dihadapi pada siswa, khususnya pada sekolah umum terdapat keragaman yang begitu banyak baik pada penguasaan materi maupun pada afektif siswa menyangkut dengan agama islam.

Dalam merencanakan PBM pendekatan CBSA, guru harus memulai dari kondisi obyektif keadaan dan kemampuan siswa melalui pre-tes. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui jenjang belajar dan kesulitan diadaptasikan dengan situasi kelas. Perencanaan yang disusun oleh guru bukan hanya rencana materi berupa pokok bahasa dari uraian tentang sub-pokok bahasan, melainkan bagaimana membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Karena kesulitan masing-masing siswa tidak sama, maka sebaiknya dengan pengelolaan kelas menggunakan pola small group, sehingga semua siswa terlayani sesuai dengan tingkat kemampuan dan kesulitannya.

Dalam proses instruksional, kebiasaan yang dilakukan oleh guru adalah melemparkan pertanyaan (kepada siswa) yang digunakan sebagai batu loncatan memasuki materi baru. Setelah PBM selesai, guru menampung pertanyaan siswa yang belum jelas kemudian menjelaskannya kembali. Pola tersebut bukan pola CBSA. Apabila menggunakan pola CBSA, pertanyaan tersebut harus dibalik. Pada tahap awal guru menampung pertanyaan dalam belajar. Kemudian pada tahap akhir guru melemparkan pertanyaan untuk mengevaluasi proses belajar mengajar pada hari itu juga, sehingga pertanyaan yang diajukan oleh siswa maupun guru tidak bersifat basa-basi untuk sekedar memenuhi etika belajar mengajar. Pada tahap evaluasi, siswa dilatih untuk melakukan self evaluation secara jujur. Hal ini dimaksudkan untuk melatih kemampuan siswa dalam mengetahui potensi sekaligus kekurangan dirinya. Demikian pula tentang evaluasi kontrak, hal ini dimaksudkan supaya siswa mulai belajar dengan sistem target. Jika dapat mencapai target tertentu ia lulus, dan jika tidak dapat mencapai target yang ditentukan sendiri, maka tidak akan memperoleh nilai.

Tentang penyusunan follow-up, yang dimaksudkan adalah adanya tindak lanjut dari proses dan hasil belajar, khususnya pendidikan agama. Fungsi pendidikan agama bukan sekedar memberi informasi tentang ilmu agama, akan tetapi juga merupakan proses trans-internalisasi nilai, tidak hanya sekedar dialog antara guru guru murid, melainkan juga dengan masyarakat, alam sekitar serta kepada al-Khaliq.

  1. Pendidikan Normatif vs Subjek Didik

Dalam merancang pendidikan, para pakar pendidikan pada umumnya berorientasi pada subyek didik. Akan tetapi secara realitas dalam merancang pendidikan formal (SD s/d PTU atau MI s/d PTI) biasanya berorientasi pada norma ajaran islam. Dengan kata lain, rancangan model pendidika, khususnya PAI biasanya tidak didasarkan pada kebutuhan subyek didik, akan tetapi didasarkan pada norma ajaran agama islam. Ada beberapa perbedaan antara PAI yang berorientasi pada norma agama islam dengan PAI yang berorientasi pada problem subyek didik, yaitu :[11]

No

PAI berorientasi pada Norma Agama Islam

PAI Berorientasi pada Problem Subyek Didik

1

Berangkat dari penelitian literer terhadap Al Quran, Al Hadits, dan buku-buku Islam

Berangkat dari penelitian empiris (lapangan) terhadap kondisi obyektif subyek didik

2

Dengan pendekatan deduktif

Dengan pendekatan induktif

3

Bersifat normatif

Bersifat empiris

4

Berorientasi pada ajaran-ajaran pokok agama Islam

Berorientasi pada hasil penelitian terhadap subyek didik

5

Ajaran agama Islam dipahami kemudian disistematisasi menjadi aspek yaitu Al Quran, Al Hadits, Aqidah (keimanan), Akhlak, Fikih(ibadah), dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

Kondisi obyektif subyek didik diteliti oleh pendidik. Dari penelitian tersebut dapat ditemukan problem-problem mereka. Dari problem-problem itu kemudian dicarikan solusinya pada ajaran agama Islam

6

Kurikulum berorientasi pada lima aspek ajaran agama tersebut diatas

Kurikulum berorientasi pada problem yang ada pada subyek didik

7

Kompetensi yang dituntut berkaitan dengan pancapaian norma agama Islam

Kompetensi yang dituntut berkaitan dengan pemecahan problem yang ada pada subyek didik

8

Materi pendidikan : Al Quran, Al Hadits, Aqidah (keimanan), Akhlak, Fikih (ibadah), dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

Materi pendidikan ditentukan atas dasar problem yang ada pada subyek didik

9

Metode pendidikan bersifat bersifat mekanis: pelajaran diulang-diulang sampai hafal

Metode pendidikan bersifat problem-solving

10

Subyek didik selalu terdiri dari satu agama yang sama

Subyek didik bisa terdiri dari beda aliran/ agama asal memiliki kesamaan persoalan

11

Guru agama Islam menjalankan tugasnya secara mandiri

Guru agama Islam berkolaborasi dengan guru lain

12

Penilaian hasil belajar dilakukan dengan tes/ ujian tulis dan praktek

Penilaian dilakukan dengan tes tulis, dan pengamatan terhadap perilaku subyek didi

BAB III

PENUTUP

Konsep berasal dari bahasa Inggris “concept” yang berarti “ide yang mendasari sekelas sesuatu objek” dan “gagasan atau ide umum”. Kata tersebut juga berarti gambaran yang bersifat umum atau abstrak dari sesuatu.    Sedangkan pengertian pendidikan menurut Mohamad Natsir adalah suatu pimpinan jasmani dan ruhani menuju kesempurnaan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya.

Pendidikan pada umumnya bisa terlaksana karena adanya berbagai unsur seperti subyek didik, pendidik, kurikulum, pengelola, pembiayaan, dan sebagainya. Yang dimaksud subyek didik di sini adalah murid, pelajar, santri, atau peserta didik. Di sebut sebagai subyek didik karena mereka yang mengalami secara langsung, yaitu proses berubah dan mengalami proses yang menjadi.

Dalam merancang pendidikan, para pakar pendidikan pada umumnya berorientasi pada subyek didik. Akan tetapi secara realitas dalam merancang pendidikan formal (SD s/d PTU atau MI s/d PTI) biasanya berorientasi pada norma ajaran islam. Dengan kata lain, rancangan model pendidikan, khususnya PAI biasanya tidak didasarkan pada kebutuhan subyek didik, akan tetapi didasarkan pada norma ajaran agama islam.  Banyak kelemahan-kelemahan yang diperoleh ketika dalam kegiatan belajar-mengajar peserta didik tidak diikut aktifkan. Sebaliknya, peserta didik akan lebih berkembang apabila diikut aktifkan dalam kegiatan belajar mengajar. Salah satu tawaran yang diberikan agar terdapat peningkatan dalam proses belajar mengajar yaitu dengan cara Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

DAFTAR PUSTAKA

http://forum.dudung.net/index.php?topic=5368.0 diakses pada tanggal 25 Maret 2012 pukul 15:10 WIB

Sanaky, Hujair AH. 2003. Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Safiria Insania Press

Sutrisno, Pendidikan (Agama) Islam Berorientasi pada Problem Subjel Didik : Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Islam Disampaikan di hadapan Rapat Senat Terbuka Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011, Yogyakarta

Thoha, HM. Chabib. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


[1] http://forum.dudung.net/index.php?topic=5368.0 diakses pada tanggal 25 Maret 2012 pukul 15:10 WIB

[2] Sutrisno, Pendidikan Islam yang Menghidupkan, Yogyakarta, 2008, halaman 116.

[3] Ibid, halaman 117

[4] Sutrisno, Pendidikan (Agama) Islam Berorientasi pada Problem Subjel Didik : Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Islam Disampaikan di hadapan Rapat Senat Terbuka Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011, Yogyakarta, halaman 4.

[5] Ibid, halaman 6.

[6] Suharismi Arikunto, Managemen Pengajaran Secara Manusiawi, halaman 78.

[7] Sutrisno, Pendidikan (Agama) Islam Berorientasi pada Problem Subjel Didik : Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Islam Disampaikan di hadapan Rapat Senat Terbuka Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011, Yogyakarta, halaman 7.

[8] Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam, 2003, (Yogyakarta:Satria Insania Press), halaman 242.

[9] Thoha. Chabib, Kapita Swlekta Pendidikan Islam, 1996, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar), Halaman 54

[10] Ibid, halaman 55

[11] Sutrisno, Pendidikan (Agama) Islam Berorientasi pada Problem Subjel Didik : Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Islam Disampaikan di hadapan Rapat Senat Terbuka Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011, Yogyakarta, halaman 11-12.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s