AKHLAK TERPUJI

Oleh : Afdhol Abdul Hanaf, dkk

BAB I

PENDAHULUAN

Di zaman sekarang ini adat kebudayan Indonesia yang terkenal dengan sopan santunnya, ramah tamahnya sebagai ciri adat ketimuran sudah mulai pudar, krisis moral terjadi dimana-mana. Generasi sebagai ujung tombak di masa depan sudah mengesampingkan yang namanya tata krama. Seharusnya kita sebagai umat Islam harus menjaga sikap dan perilaku yang baik menurut Islam. Dan Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan terbaik baik kita. Oleh karena itu kita hendaknya selalu mencontoh dan mengamalkan apa yang pernah dilakukan nabi Muhammad SAW.

Rasulullah saw telah menetapkan tujuan pertama dari bi’tsahnya dan cara yang terang dalam dakwahnya, yaitu dengan sabda beliau yang menegaskan : “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan budi pekerti luhur”[1].  Jadi nabi mengajak kita untuk mengamalkan akhlak terpuji sehingga menjadi insan yang kaffah. Ketika muncul kesadaran untuk mengamalkan akhlak terpuji sebanyak mungkin kepada orang lain, maka akan mampu melahirkan sikap dasar untuk mewujudkan keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam hubungan antar manusia baik pribadi maupun masyarakat lingkungannya. Dengan akhlak terpuji maka akan menciptakan keadaan sosial yang lebih baik.

Dalam makalah ini akan kita bahas mengenai sifat terpuji seperti jujur, sabar, ikhlas, menepati janji, dan dermawan. Dengan disusunnya makalah ini diharapkan bisa membangkitkan kembali norma-norma yang pada saat ini sudah mulai hilang.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian

Akhlak terpuji (akhlaqul karimah) ialah segala tingkah laku terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah SWT[2]. Akhlaqul karimah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat terpuji. Hamzah Ya’qub mengatakan akhlak yang baik ialah mata rantai iman.  Al-Ghazali menerangkan bentuk keutamaan akhlak mahmudah yang dimiliki seseorang misalnya sabar, benar, dan tawakal. Hal itu dinyatakan sebagai gerak jiwa dan gambaran batin seseorang yang secara tidak langsung menjadi akhlaknya. Pandangan Al-Ghazali tentang akhlak yang baik hampir senada dengan pendapat Plato. Plato mengatakan bahwa orang utama adalah orang yang dapat melihat kepada Tuhannya secara terus-menerus seperti ahli seni yang selalu melihat pada contoh-contoh bangunan. Al-Ghazali memandang bahwa orang yang dekat kepada Allah SWT adalah orang yang mendekati ajaran-ajaran Rasulullah yang memiliki akhlak sempurna.[3].

  1. Perintah Ber-Akhlaqul Karimah

Perintah ialah suatu yang wajib dilakukan, baik secara individu maupun kelompok. Perintah dapat diklasifikasikan kepada dua bagian, yaitu perintah dari Allah dan perintah dari manusia. Perintah dari Allah yaitu perintah untuk melaksanakan agama secara kaffah. Perintah ini berupa syari’at, dan hukumnya wajib untuk dilaksanakan. Perintah dari manusia misalnya perintah dari pemerintah, orang tua, majikan, guru, teman sebaya, dan sebagainya. Perintah ini tidak wajib untuk dilakukan, tergantung pada perintahnya. Apabila yang diperintah itu untuk berbuat jahat, syirik, dengki dan segala sesuatu yang dilarang agama maka hukumnya haram untuk dikerjakan.[4]

Perintah untuk berbuat baik (akhlaqul karimah) disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 104 :

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

104.  Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa kita diperintahkan untuk berbuat yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Berbuat yang ma’ruf di sini ialah bawa kita diseru untuk berbuat kepada kebaikan. Kejayaan dan kemuliaan umat di muka bumi ini adalah kebaikan akhlak kita dan kerusakan yang timbul di muka bumi ini disebabkan oleh perbuatan kita sendiri.

      Budi pekerti yang baik juga dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Usamah bin Syarik[5]. Beliau meriwayatkan : Pada satu saat kami duduk di tempat kediaman Nabi SAW, menunduk dan diam sedemikian rupa laksana patung. Tak ada seorang pun yang bercakap-cakap. Tiba-tiba datanglah beberapa orang bertanya kepada Rasulullah :

“Ya Rasul Allah, siapakah di antara hamba Allah yang paling dicintai Allah ?”

Beliau menjawab :

“Yang baik budi pekertinya”       (Ath-Thabrani)

Dalam hadits lain juga disebutkan[6] :

اى ا لمؤ منين اكمل ايما نا؟

“Di antara kaum mukminin, siapakah yang paling sempurna imannya?”

Beliau menjawab :

قل : أحسنهم خلقا

“Yang terbaik budi pekertinya.”

Dari berbagai dalil di atas dapat kita ketahui bahwa akhlak/budi pekerti yang baik wajib diamalkan oleh manusia. Barangsiapa yang ingin dicintai oleh Allah dan ingin menyempurnakan imannya, maka syaratnya harus memiliki budi pekerti yang baik.

  1. Macam-Macam Akhlak Terpuji
    1. a.      Jujur

Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh makna dari jujur itu sendiri. Apalagi perkara mengenai kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah bagi mereka. Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,[7]

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Kebajikan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat baik kepada sesama.

Allah telah menyeru kepada orang-orang yang beriman agar mereka bersikap jujur. Seperti dalam QS At taubah ayat 119:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#qä9qè%ur Zwöqs% #Y‰ƒÏ‰y™ ÇÐÉÈ

 

 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar,

Kandungan ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menyeru orang-orang yang beriman agar bertaqwa kepada-Nya dan selalu berkata jujur. Setiap perkataan dan perbuatan haruslah dilandasi dengan prinsip kejujuran, karena kejujuran merupakan tanda kesempurnaan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya :

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada jalan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan kedalam al jannah (surga), sesungguhnya orang yang benar-benar jujur akan dicatat disisi Allah sebagai ash shidiq (orang yang jujur). Dan sesungguhnya orang yang dusta akan mengantarkan ke jalan kejelekan, dan sesungguhnya kejelekan itu akan mengantarkan kedalam an naar (neraka), sesungguhnya orang yang benar-benar dusta akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2606).

Dalam hadits di atas menunjukkan bahwa jujur merupakan amalan yang amat terpuji. Dari sebuah kejujuran akan tegak kebenaran, keadilan, dan sekian banyak kebaikan dibaliknya. Apabila seseorang berkata jujur, maka orang lain akan merasa dirinya dihormati, diperlakukan adil, tidak dizhalimi atau tidak dikhianati sehingga menumbuhkan rasa saling percaya, dan menambah rajutan ukhuwah (persaudaran). Namun sebaliknya, dari ketidakjujuran akan menyebabkan terjatuh dalam perbuatan zhalim, curang atau berdusta kepada orang lain. Yang berakibat memudarnya sikap saling percaya, bahkan akan timbul kedengkian, permusuhan, dan sikap jelek lainnya. Dampak baik dari perilaku jujur yang lain dapat dilihat sebagai berikut:[8]

  1. Mendapat berkah dari Allah SWT
  2. Jujur sebagai sebab diperbaiki dan diterimanya amalan-amalannya oleh Allah SWT
  3. Jujur sebagai sebab datangnya maghfirah Allah SWT
  4. Mendapat pahala yang besar

Oleh sebab itu hendaklah kita senantiasa jujur dalam segala hal. Orang jujur ada kemungkinan akan teguh dalam memegang amanah. Sedangkan orang yang pendusta atau tidak jujur sama sekali tidak bisa memegang amanah sehingga sulit untuk dipercaya oleh oranglain. Jujur dan amanah adalah serangkaian sifat yang perlu kita sikapi. Sebagaimana rasulullah adalah seorang yang mempunyai sifat jujur dan terpercaya. Kita patut menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik.

  1. b.      Sabar

Kesabaran ialah menahan diri dari apa yang tidak disukai atau tabah menerimanya dengan rela dan berserah diri.[9] Sabar merupakan salah satu bagian dari akhlaqul karimah yang dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi masalah dunia dan agama. Tingkat kesabaran seseorang dalam menghadapi hal-hal yang menyinggung perasaan berbeda-beda. Ada yang tersinggung sedikit saja segera meluap dan ada juga yang menyinggung hatinya tetapi dia tetap tabah dan menerimanya. Apabila kita memiliki sifat sabar maka tidak akan ada pertikaian dan pertengkaran. Dalam surat Al baqarah ayat 153 dijelaskan:

$yg•ƒr’¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qãY‹ÏètGó™$# Ύö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# yìtB tûïΎÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÌÈ

Artinya: Wahai orang-orang beriman ! Mohonlah pertolongan  (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan cara bersabar dan menunaikan shalat yang khusyuk. Sabar terbagi menjadi dua yaitu sabar ketika mendapat kesenangan dan sabar ketika mendapat kesusahan.

Ketika menghadapi permasalahan, hendaknya kita mengembalikan semua urusan kepada Allah SWT karena Dialah Zat yang menentukan semuanya. Rasulullah SAW bersabda : “Sebagai kejutan bagi orang mukmin, Allah SWT tidak akan menentukan sesuatu, kecuali Allah SWT lebih tahu tentang apa yang lebih baik baginya”.

Sabar mengandung tiga hal, yaitu sabar untuk meninggalkan sesuatu yang haram, sabar dalam menunaikan ibadah dan kewajiban, serta sabar dalam menerima musibah dari Allah SWT. Semua musibah merupakan kehendak Allah SWT. Disebutkan pula bahwa dibalik kejadian yang menimpa, pasti terdapat hikmah yang sangat agung (Al Misbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Katsir,1999:92-93)[10].

Selain dalam surat di atas masih banyak lagi dalil tentang sabar dalam al Quran. Ayat mengenai Allah bersama orang yang sabar, diulang beberapa kali dalam al Quran. Hal ini menandakan bahwa Allah benar-benar akan selalu bersama orang yang sabar. Oleh karena itu seyogyanya kita tidak usah risau dan sedih karena Allah akan selalu bersama kita. Apalagi Allah akan menolong kita dengan lima ribu malaikatnya (QS.Al Imran:125). Dan dalam surat yang lain diterangkan bahwa ada balasan bagi orang yang sabar, misalnya orang sabar akan beruntung (QS.Al Imran:200), derajat tinggi bagi orang sabar (QS.Al Imran:139), mendapat ampunan dan pahala yang besar (QS.Hud:11). Maka bersabarlah dan Qul amantu billahi tsummas taqim.

  1. c.       Ikhlas

Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Dalam arti lain, ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Al Khaliq.[11]

Salah satu pilar yang terpenting dalam Islam yaitu sifat ikhlas, karena ikhlas merupakan salah satu syarat untuk diterimanya ibadah kita kepada Allah. Hal ini bisa dilihat dari hadits Abu Umamah, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda setelah ditanya mengenai orang yang berperang untuk mendapatkan upah dan pujian. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya”.

Ikhlas termasuk salah satu sifat yang sulit untuk dimiliki oleh setiap manusia, bahkan banyak dari kita yang tidak mengedepankan keikhlasan dalam beramal. Sebagian dari mereka cenderung beramal hanya untuk mendapatkan pujian atau sejenisnya. Padahal dalam kajian tauhid, keikhlasan merupakan hal yang harus dimililki seorang muslim. Oleh karenanya, sehebat apapun suatu amal bila tidak ikhlas, tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT. Sedangkan amal yang sederhana saja akan menjadi luar biasa dihadapan Allah SWT bila disertai dengan ikhlas. Tidaklah heran seandainya shalat yang kita kerjakan belum terasa khusyu, atau hati selalu resah dan gelisah dan hidup tidak merasa nyaman dan bahagia, karena kunci dari itu semua belum kita dapatkan, yaitu sebuah keikhlasan. Seperti pada Q.S Al An’am ayat 162 yang berbunyi :

ö@è% ¨bÎ) ’ÎAŸx|¹ ’Å5Ý¡èSur y“$u‹øtxCur †ÎA$yJtBur ¬! Éb>u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ

162.  Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Pada ayat tersebut sudah sangat jelas sekali bahwa kita harus ikhlas dalam mendekatkan diri kepada Allah. Tidak terpaksa atau hanya karena untuk mendapatkan pujian, akan tapi semata-mata hanya karena Allah. Dengan niat yang tulus dan ikhlas, hati akan merasa nyaman dan bahagia.

Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan antara lain:[12]

  1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa

      Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.

  1. Tidak tergantung / berharap pada makhluk

      Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.

  1. Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil

      Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.

  1. Banyak amal kebaikan yang rahasia

      Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.

  1. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi

      Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.

  1. d.      Menepati janji

Di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji. Kata sebuah pepatah, janji adalah hutang, karena ia wajib di segerakan untuk dilunasi. Karena begitu pentingnya sebuah janji, maka Allah SWT. benar-benar menekankan kepada seluruh umat manusia untuk menepatinya. Dalam firman Allah:

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qèù÷rr& ϊqà)ãèø9$$Î/ 4 ôM¯=Ïmé& Nä3s9 èpyJŠÍku5 ÉO»yè÷RF{$# žwÎ) $tB 4‘n=÷FムöNä3ø‹n=tæ uŽöxî ’Ìj?ÏtèC ωøŠ¢Á9$# öNçFRr&ur îPããm 3 ¨bÎ) ©!$# ãNä3øts† $tB ߉ƒÌãƒ ÇÊÈ

 

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

Kemudian Teungku Muhammad Hasbi di dalam bukunya Al-Islam menjelaskan yang dimaksud janji adalah suatu penetapan yang kita sendiri ikut membuatnya. Kita wajib menepatinya, dan tidak ada alasan untuk meng- ingkarinya.Menepati janji adalah menyempurnakan segala yang telah dijanjikan, baik berupa kontrak tertulis maupun hal-hal yang telah dijamin dalam Islam. Menepati janji juga merupakan sendi hidup masyarakat. Sebaliknya melanggar janji akan berakibat rusaknya tatanan aturan hidup bermasyarakat yang pada akhirnya jika pelanggaran janji sudah menjadi satu kebiasaan niscaya akan menghancurkan masyarakat itu sendiri, karena melanggar janji adalah perbuatan dosa.

Janji yang dibuat dengan seseorang, menjadi satu janji pula dengan Allah, maka hendaklah difikirkan sebalum melakukan perjanjian dengan seseorang. Namun demikian, janji yang wajib ditepati adalah janji kebaikan, janji yang tidak berlawanan dengan perintah  Allah. Janji yang seperti inilah yang diperintahkan Allah untuk ditepati. Sedangkan janji-janji yang dapat membuat suatu kerusakan (munkar) atau mengerjakan suatu ke- maksiatan, walaupun dibuat atas nama perjanjian, wajiblah melepaskan atau mem- bebaskan diri dari perjanjian tersebut.

Wahyu Allah yang pertama dalam surat Al-Maidah, dimulai dengan seruan kepada orang yang beriman, “Wahai orang yang beriman”. Seruan ini mengandung makna agar orang-orang yang beriman hidup tertib dan teratur di dalam hubungan kehidupan bermasyarakat.Orang-orang yang taat azas atau orang-orang yang dapat mengikuti peraturan atau undang-undang, adalah dapat dijalankan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah, yang memberikan tata aturan hidup berkeluarga dan bermasyarakat.

Sungguh Al-Qur`an telah memerhatikan permasalahan janji ini dan memberi dorongan serta memerintahkan untuk menepatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(#qèù÷rr&ur ωôgyèÎ/ «!$# #sŒÎ) óO›?‰yg»t㠟wur (#qàÒà)Zs? z`»yJ÷ƒF{$# y‰÷èt/ $ydω‹Å2öqs? ô‰s%ur ÞOçFù=yèy_ ©!$# öNà6ø‹n=tæ ¸xŠÏÿx. 4 ¨bÎ) ©!$# ÞOn=÷ètƒ $tB šcqè=yèøÿs? ÇÒÊÈ  

“Dan tepatilah Perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. (QS. An-nahl : 91)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

Ÿwur (#qç/tø)s? tA$tB ÉOŠÏKuŠø9$# žwÎ) ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4Ó®Lym x÷è=ö7tƒ ¼çn£‰ä©r& 4 (#qèù÷rr&ur ωôgyèø9$$Î/ ( ¨bÎ) y‰ôgyèø9$# šc%x. Zwqä«ó¡tB ÇÌÍÈ  

“ Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Isra’: 34)

Demikianlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar.  Rasulullah bersabda:

اضمنوا لي ستا أضمن لكم الجنة اصدقوا اذاحدثتم وأوفو اذا وعدتم وادوا اذاؤتمنتم وحفظوا فروجكم وغضوا ابصاركم وكفوا ايديكم. (رواه أحمد)

Artinya:

”Berjanjilah kepadaku bahwa kamu akan mengerjakan enam perkara ini niscaya kamu masuk surga. Berkata benar, tepatilah apabila berjanji, kerjakanlah apabila diamanati orang, jagalah kehormatan, tundukkanlah pandanganmu dan jangan suka memukul orang”. (Hentikan lancang tanganmu)”.(HR. Ahmad, 101 hadits.hal:24-25)

  1. e.    Dermawan

Dermawan, dalam pengertian harfiah adalah seseorang yang suka memberi kepada orang lain. Dermawan bisa diartikan dengan senang hati tanpa keterpaksaan memberikan sebagian harta atau sesuatu hal yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan, sedangkan dirinya berlebihan akan sesuatu hal tersebut. Namun, di sisi lain muncul pengertian ma’rifat yang lebih luas lingkupnya, yakni secara terminology ma’rifat adalah gerak kendali hati akan keinginan untuk memberi sesuatu pada jiwa lain, dimana disesuaikan dengan kondisi diri si penderma dan penerima secara lahiriah dan bathiniahnya.[13] Dermawan dapat berupa uluran tangan, sedekah. Menolong sesama, menebarkan kebaikan, bahkan “senyuman” yang dapat membahagiakan hati orang lain.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa bersedakah dengan seharga kurma dari hasil yang baik (dan Allah tidak menerima sesuatu kecuali yang baik), sesungguhnya Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah akan mengembangkannya sampai sebesar gunung sebagaimana salah seorang di antara kalian memelihara seekor anak kuda.’‘ (HR. Muslim).

Dermawan memiliki beberapa keutamaan, seperti:

  • Menyelamatkan seseorang dari kekufuran

Sifat dermawan dapat menghindarkan seseorang dari kekufuran, karena dengan sifat dermawan akan melatih seseorang untuk tidak kufur nikmat atau dapat dikatakan sombong dengan apa yang telah ia miliki. Ia akan selalu berfikir dan bersyukur dengan apa yang ia miliki semua adalah pemberian dari Allah SWT dan didalam sebagian hartanya ada hak-hak orang lain yang haris diberikan. Ketika kedermawanan itu kita wujudkan dalam bentuk uluran tangan mengentaskan saudara-saudara kita dari kemiskinan, sebagaimana pernah dikhawatirkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad SAW bahwa Kemiskinan lebih dekat dengan kekufuran.[14]

  • Akan diberi kemudahan dari segala persoalan hidup yang dihadapinya

     Orang yang bersifat dermawan akan diberikan kemudahan dari segala persoalan hidup yang dihadapinya.

  • Membersihkan dan mensucikan

     Sifat dermawan akan menjadikan seseorang tidak hanya suci hartanya tetapi juga  suci hatinya. Karena dengan sifat dermawan yang dimliki dapat melatih seseorang untuk berbuat baik membantu orang lain secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun (ikhlas)

  • Dapat mencegah murka Allah

     Semua orang pasti ingin hidup berkecukupan atau bahkan kaya. Namun, banyak yang keliru duga, ia mengira bahwa perbuatan kikir akan mangantarkannya menjadi seorang yang kaya raya. Padahal, itu logika setan saja. ”Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian. Dan Allah mahaluas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.”(QS.Al-Baqarah [2]: 268).

  • Dapat menghapus dosa dan diselamatkan dari api neraka.

Sabda Rasulullah saw dalam hadits riwayat Ibnu Abbas ra:

تَجَافَوْا عَنْ ذَنْبِ السَّخِيِّ فَاِنَّ اللهَ آخِذٌ بِيَدِهِ كُلَّمَا عَثَرَ

Menyingkirlah kamu sekalian dari dosa orang yang dermawan, karena sesungguhnya Allah akan membimbing tangannya setiap kali dia jatuh.

  • Mendapatkan pahala yang berlipat ganda

      Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda, ”Harta tidak akan berkurang dengan disedekahkan, dan Imam An-Nawawi menjelaskan, bahwa hadis ini mengandung dua pengertian. Pertama, sedekah itu diberkahi (di dunia) dan karenanya ia terhindar dari kemudharatan. Dan kedua, pahalanya tidak akan berkurang di akhirat, bahkan dilipatgandakan hingga kelipatan yang banyak.

     Hadits yang diriwayatkan oleh Muttafaq ‘alaih juga menjelaskan : Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah. Dia mencintai kemurahan. Danmencintai akhlak mulia serta membenci akhlak yang buruk.”

            KARAKTERISTIK DERMAWAN

ü  Memberi tanpa mengharapkan imbalan

Seseorang yang benar-benar dermawan tidak akan pernah mengharapkan sedikitpun imbalan setelah dia membantu orang lain. Entanh itu dengan harta atau dengan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh orang lain. Orang tersebut akan memberikan bantuan dengan hati yang ikhlas, walaupun bantuan  yang ia berikan hanya sedikit.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir ; seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bai siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui”. (QS. Al-Baqarah : 261)

ü  Tidak mengharapkan pujian (Riya’)

Seseorang yang dermawan ketika menyumbang, mereka tidak perlu di sebut-sebut jumlah sumbangannya, agar dipuji oleh orang lain karena kebaikan yang telah ia lakukan kepada orang lain yang membutuhkan bantuan.

Bahkan jika ingin memberikan bantuan, seseorang yang dermawan akan memberikan bantuan apapun tanpa ada seseorang yang menetahuinya. Ia hanya berkeyakinan bahwa apapun yang ia lakukan untuk membantu orang lain hanyalah mengharap Ridho dari Allah SWT.

ü  Memiliki perhatian besar terhadap orang yang menderita

seseorang yang dermawan selalu memiliki kepekaan terhadap orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan. Baik itu dari lahiriah ataupun batiniah. Ia akan memberikan perhatian dan membantu tanpa harus ada yang menyuruh, karena hatinya secara otomatis akan tergerak untuk membantu.

ü  Jika kebetulan tidak dapat membantu maka haruslah  menolak dengan halus dan  meminta maaf karena tidak dapat membantunya.

Allah mencintai seseorang yang sopan dan dapat menghargai orang lain. Ketika kita tidak dapat membantu orang lain maka kita dapat menolaknya dengan halus tanpa harus menyakiti hati orang yang meminta bantuan, sehingga orang tersebut dapat mengerti dan memahami mengapa kita tidak dapat memberikan bantuan

ü  Dengan meyakini bahwa harta yang kita miliki pada hakikatnya bukan milik kita, maka akan membuat kita ringan saat mengeluarkan dan mambelanjakannya di jalan yang diridhai Allah.

BAB III

PENUTUP

            Ajaran Islam yang paling mendasar adalah keluhuran akhlak. Karena akhlak merupakan puncak dari pengalaman ilmu. Sifat ini banyak menentukan karakter seseorang, khususnya dalam pergaulan kemasyarakatan. Seseorang yang berakhlak rendah akan dibenci dan diasingkan dari masyarakat. Begitu juga sebaliknya, seorang yang berakhlak mulia akan dihormati, dihargai, disegani, serta menjadi panutan masyarakat.

Akhlak terpuji (akhlaqul karimah) ialah segala tingkah laku terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah SWT[15]. Akhlaqul karimah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat terpuji. akhlak/budi pekerti yang baik wajib diamalkan oleh manusia. Barangsiapa yang ingin dicintai oleh Allah dan ingin menyempurnakan imannya, maka syaratnya harus memiliki budi pekerti yang baik.

Macam-macam akhlak terpuji sangatlah banyak, diantaranya jujur, sabar, ikhlas, dermawan, dan menepati janji. Semua akhlak tersebut telah terangkum beserta dalil-dalilnya yang jelas dan terperinci berdasarkan al Quran dan hadis rasulullah. Maka dari itu, sudah seyogyanya kita sebagai umat Islam tidak hanya menjadikannya sebagai pengetahuan saja, tetapi juga berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melaksanakan apa yang telah ada dalam sumber-sumber agama kita, semoga  kita menjadi sebagian dari golongan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Rasyid. 1989. Akidah Akhlak. Bandung: Husaini

Abdullah, Yatmin. 2006. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-qur’an. Jakarta: Amzah

Al Ghazali, Muhammad. 1995. Akhlak seorang muslim. Bandung: PT Al Ma’arif

Ibnu Lamin . Arti sebuah kejujuran. http://artikel.mywapblog.com/post/79.xhtml. Diakses tanggal 03 April 2012 pukul 01.55

Jabir, Abu Bakar. 1991. Pola Hidup Muslim, cet  ke-1. Bandung: Rosdakarya

Jundullah Abdurrahman Askarillah. Definisi, Dalil, dan Pendapat Ulama Mengenai Ikhlas. http://cafe-islamicculture.blogspot.com/2011/10/definisi-dalil-dan-pendapat-ulama.html

Mardiyanto. Ciri-ciri orang yang ikhlas. http://www.wisatahati.com/forum/viewtopic.php?f=2&t=182.

Sulaiman, Umar. 1996. Ciri-ciri kepribadian muslim. Jakarta: Raja Grafindo persada

___. Jujur, Kiat Menuju Selamat. http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jujur-kiat-menuju-selamat.html

___. 2010. Syamil Al Quran Miracle The Reference. Bandung: Sygma Publishing


[1] Muhammad Al Ghazali, Akhlak seorang muslim, (Bandung: PT Al Ma’arif, 1995), halaman 11

[2] Rasyid Abdullah, Akidah Akhlak, (Bandung:Husaini, 1989), halaman 73.

[3] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-qur’an,(Jakarta: Amzah, 2006), halaman 40.

[4] Ibid. Halaman 193

[5] Muhammad Al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (Bandung:PT Al-Ma’arif, 1995), halaman 24

[6] Ibid. Halaman 25.

[7]     . Jujur, Kiat Menuju Selamat, http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jujur-kiat-menuju-selamat.html, Akses tanggal 03 April 2012 pukul 01.31

[8] Ibnu Lamin, Arti sebuah kejujuran, http://artikel.mywapblog.com/post/79.xhtml, Diakses tanggal 03 April 2012 pukul 01.55

[9] Abu Bakar Jabir, Pola Hidup Muslim, cet  ke-1 (Bandung: Rosdakarya, 1991), hlm. 347

[10] Syamil Al Quran Miracle The Reference, (Bandung: Sygma Publishing, 2010), hlm 44.

[12] Mardiyanto, Ciri-ciri orang yang ikhlas,http://www.wisatahati.com/forum/viewtopic.php?f=2&t=182, Akses tanggal 03 April 2012 pukul 00.13

[13] file:///G:/hanaf%20coy/Dermawan%20_%20Al%20Islam-SAFA.htm

[15] Rasyid Abdullah, Akidah Akhlak, (Bandung:Husaini, 1989), halaman 73.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s